MY LATEST VIDEO ON YOUTUBE



Read the story of this newbie booktuber here ;D

Wednesday, September 2, 2015

Kopi Bikin Aku Ngantuk dan Agak … ‘Gila’

Sekitar tahun 2010, aku ketemuan dengan Farida Susanti dan Gabby Laupa di Reading Lights. Itu menjadi pertemuan kami setelah berbulan-bulan sebelumnya berkomunikasi lewat Twitter dan Yahoo! Messager sebagai tim di balik Writing Session. Farida jadi yang pertama datang, lalu aku, dan Gabby tentunya. Dia membuka buku menu untuk memesan minuman dan bertanya jika aku tertarik juga. Sekilas aku melihat daftar minuman yang tersedia didominasi berbagai jenis kopi. Harganya kurang bersahabat pada budget-ku waktu itu hahaha. Tapi yang membuatku urung untuk memesan adalah efek kopi. Kopi bikin aku ngantuk. Farida tentunya tertawa karena kopi biasanya diminum agar bisa melek lebih lama dan konsentrasi. Tapi yang terjadi padaku malah sebaliknya. Kopi membuat kepalaku berat, pusing, dan inginnya bersentuhan dengan bantal empuk.

Sewaktu kecil, aku menganggap kopi adalah minuman orang dewasa, khususnya laki-laki. Mereka suka minum cairan gelap yang kental itu saat berdiskusi serius dan ditemani sebatang rokok. Ampas yang tersisa di dasar gelas membuat kegiatan mencuci piring agak sulit. Tak hanya aromanya yang kuat, sisa kehitamannya kadang tidak bisa hilang. Lalu muncul kopi sachet-an yang tidak meninggalkan ampas. Tidak hanya kopi hitam, ada varian yang dilengkapi susu, krim, dan tambahan lainnya. Warna bungkusnya juga menarik, sepertinya pasarnya ditujukan untuk kaum muda. Runtunyan bungkus itu tersampir berdampingan di salah satu warung populer di SMP-ku. Pemesan kebanyakan memilih kopi itu diseduh dengan air biasa, diberi es batu yang banyak dan di-blender. Aku ikut memesannya. Kesukaanku Good Day Mocacchino karena bungkusnya yang berwarna merah tua terlihat ‘aman’ dibandingkan dengan varian lain.

Efek ngantuk, yang sebelumnya belum aku sadari, tidak terlalu terasa karena es batunya perlahan mencair dan mengencerkan kandungan kafeinnya itu. Dari sana, aku merasa kopi aman untuk dikonsumsi, asalkan disajikan dengan es batu. Kadang aku mengkonsuminya tanpa air, karena meniru kebiasaan nenekku. Kesibukan akademis dan ekskul di sekolah juga menuntutku untuk tidur lebih malam dan membuatku perlu meminum kopi. Tapi pengalaman pertamaku minum kopi agar tetap melek bukan karena pekerjaan rumah apapun, melainkan untuk bisa nonton pertandingan bola timnas Jerman di Piala Dunia 2006 yang tayang hampir tengah malam. Dalam hitungan jam juga, usiaku bertambah (atau harusnya berkurang) satu. Dua kejadian penting dalam satu malam yang tidak mau aku lewatkan. Kopi pun kupersiapkan. Kali ini diseduh dengan air panas.

Kesan pertama, cairan panas itu menyengat lidahku, meninggalkan rasa baal yang menganggu. Lalu sakit kepala pun mulai terasa. Aku jadi merasa tak enak badan, inginnya berbaring saja. Aku masih terbangun di tengah malam untuk merasa pergantian hari dan Jerman pun menang, yang kuketahui dari siaran berita paginya. Setelah itu aku kapok minum kopi panas. Selanjutnya kopi itu harus tersaji dalam keadaan dingin. Pernah aku agak kesal sekaligus kelimpungan saat memesan kopi di warnet dan disuguhkan gelas mengepul. Namun kesan ‘dewasa’ saat meminum kopi masih lekat dibenakku.

Thursday, August 27, 2015

Shatter Me

Tahereh Mafi
250 Halaman
HarperCollins, 2011
eBook

I have a curse
I have a gift

I am a monster
I'm more than human

My touch is lethal
My touch is power

I am their weapon
I will fight back

Juliette hasn’t touched anyone in exactly 264 days.

The last time she did, it was an accident, but The Reestablishment locked her up for murder. No one knows why Juliette’s touch is fatal. As long as she doesn’t hurt anyone else, no one really cares. The world is too busy crumbling to pieces to pay attention to a 17-year-old girl. Diseases are destroying the population, food is hard to find, birds don’t fly anymore, and the clouds are the wrong color.

The Reestablishment said their way was the only way to fix things, so they threw Juliette in a cell. Now so many people are dead that the survivors are whispering war – and The Reestablishment has changed its mind. Maybe Juliette is more than a tortured soul stuffed into a poisonous body. Maybe she’s exactly what they need right now.

Juliette has to make a choice: Be a weapon. Or be a warrior.

Aku sering melihat cover Shatter Me di-display toko buku, tempat peminjaman buku, recent update Goodreads, di-review banyak book blogger, dan diperlihatkan oleh booktuber luar di video-video mereka. Penasaran pengen baca tapi nggak ada waktu atau ada seri lain yang lebih menarik saat itu. Begitu mendengar seri ini diangkat menjadi TV show, dorongannya jadi terasa lebih kuat. Itu pula yang membuatku setuju saat judul ini menjadi bahan bacaan bersama untuk Quirky Reads. Now, let’s review it :D

".. but I’d always hoped that if I were a good enough girl, if I did everything right, if I said the right things or said nothing at all – I thought my parents would change their minds. I thought they would finally listen when I tried to talk. I thought they would give me a chance. I thought they might finally love me.
I always had that stupid hope."

Karena kekuatan misterius dalam sentuhan tangannya, Juliette Ferrars dianggap berbahaya dan diasingkan ke rumah sakit jiwa. Tak seorang pun yang peduli, bahkan kedua orangtuanya mengabaikannya. Dari dalam sel sempit, dia menyaksikan dunia luar hancur karena sebuah penyakit dan terbentuk kembali di bawah The Reestablishment. Tiga tahun berlalu, seorang laki-laki, Adam, dijebloskan ke sel Juliette. Dia membuat Juliette tidak nyaman dengan tingkahnya yang seenaknya dan seribu pertanyaan yang diajukannya. Tapi dia mengingatkan Juliette pada seseorang di masa lalu, yang mustahil masih ada. Interaksi kaku di antara mereka juga membuat Juliette sedikit merasa hidup dan tak sendirian.

Suatu hari, sekelompok tentara menyerbu masuk sel mereka dan membawa paksa Juliette. Lalu Juliette bertemu dengan Warner. Warner tahu tentang kekuatan tangan Juliette dan mengajaknya bergabung dengan The Reestablishment. Dia menyediakan kamar khusus dengan fasilitas lengkap, memperlihatkan dunia ‘baru’, dan dengan sabar menunggu Juliette menyetujui tawarannya. Dia sudah meneliti Juliette sejak lama, bahkan Adam adalah salah satu ujiannya. Juliette, yang tidak mau kejadian buruk di masa lalu terulang, terus menolak. Tapi dia tidak bisa menyembunyikan keterarikannya pada Adam.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...